Pages

Silvia Takarina. Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 05 Januari 2012

Subnetting , VLSM , Routing


S U B N E T T I N G
Subnetting adalah sebuah teknik yang mengizinkan para administrator jaringan untuk memanfaatkan 32 bit IP address yang tersedia dengan lebih efisien. Teknik subnetting membuat skala jaringan lebih luas dan tidak dibatas oleh kelas-kelas IP (IP Classes) A, B, dan C yang sudah diatur. Dengan subnetting, anda bisa membuat network dengan batasan host yang lebih realistis sesuai kebutuhan.Subnetting menyediakan cara yang lebih fleksibel untuk menentukan bagian mana dari sebuah 32 bit IP adddress yang mewakili netword ID dan bagian mana yang mewakili host ID.
Dengan kelas-kelas IP address standar, hanya 3 kemungkinan network ID yang tersedia; 8 bit untuk kelas A, 16 bit untuk kelas B, dan 24 bit untuk kelas C. Subnetting mengizinkan anda memilih angka bit acak (arbitrary number) untuk digunakan sebagai network ID.
Dua alasan utama melakukan subnetting:
1.      Mengalokasikan IP address yang terbatas supaya lebih efisien. Jika internet terbatas oleh alamat-alamat di kelas A, B, dan C, tiap network akan memliki 254, 65.000, atau 16 juta IP address untuk host devicenya. Walaupun terdapat banyak network dengan jumlah host lebih dari 254, namun hanya sedikit network (kalau tidak mau dibilang ada) yang memiliki host sebanyak 65.000 atau 16 juta. Dan network yang memiliki lebih dari 254 device akan membutuhkan alokasi kelas B dan mungkin akan menghamburkan percuma sekitar 10 ribuan IP address.

2.      Alasan kedua adalah, walaupun sebuah organisasi memiliki ribuan host device, mengoperasikan semua device tersebut di dalam network ID yang sama akan memperlambat network. Cara TCP/IP bekerja mengatur agar semua komputer dengan network ID yang sama harus berada di physical network yang sama juga. Physical network memiliki domain broadcast yang sama, yang berarti sebuah medium network harus membawa semua traffic untuk network. Karena alasan kinerja, network biasanya disegmentasikan ke dalam domain broadcast yang lebih kecil – bahkan lebih kecil – dari Class C address.


Gambar. Pengalamatan dengan Subnetting
Subnets

Subnet adalah network yang berada di dalam sebuah network lain (Class A, B, dan C). Subnets dibuat menggunakan satu atau lebih bit-bit di dalam host Class A, B, atau C untuk memperlebar network ID. Jika standar network ID adalah 8, 16, dan 24 bit, maka subnet bisa memiliki panjang network ID yang berbeda-beda.
Subnetting memberikan beberapa keuntungan, antara lain:
1.      Berkurangnya  lalu  lintas  jaringan.  Untuk  mengkomunikasikan beberapa   subnet   dalam   sebuah   jaringan,   maka   kita   harus menggunakan  sebuah  router.  Dengan  adanya  router,  maka semua  lalu  lintas  hanya  akan  berada  didalam  jaringan  tersebut, kecuali  jika  paket  tersebut  ditujukan  kepada  jaringan  yang lainnya.

2.      Kerja   jaringan   yang   optimal.   Hal   ini   disebabkan   oleh berkurangnya lalu lintas jaringan.

3.      Pengelolaan yang  sederhana. Akan lebih mudah bagi kita untuk mengelola  sebuah  jaringan  kecil-kecil  yang  saling  terisolasi  jika dibandingkan  dengan  mengelola  sebuah  jaringan  tunggal  yang sangat besar.

4.      Membantu  pengembangan  jaringan  dengan  jarak  geografis  yang jauh.  Karena  jalur  dalam  WAN  yang  lebih  lambat  dan  mahal, maka  sebuah  jaringan  yang  mencakup  jarak  yang  jauh  akan menciptakan  masalah  masalah  diatas.  Sehingga  menghubungkan banyak jaringan kecil akan menjadi lebih efisien.
Pada sebuah jaringan yang besar, tanpa adanya subnetting, lalu lintas paket  dalam  jaringan  bisa  mencapai  nilai  rata-rata  yang  cukup  tinggi,  yang banyak  disebabkan  oleh  terjadinya  collision  pada  sebuah  jaringan  Ethernet (CSMA/CD).  Oleh  karena  itu  subnetting  digunakan  untuk  membentuk jaringan-jaringan  yang  lebih  kecil.  Disini  router  digunakan  untuk  mengelola lalu lintas data dan memisahkan batas antar subnet.
Selain  itu.  subnetting  membantu  juga  dalam  mengatasi  masalah keterbatasan jumlah host dalam IPv4, dimana jumlah maksimal alamat IP yang dimungkinkan  adalah  sebanyak  232  alamat  IP.  Mengingat  bahwa  setiap  mesin yang  terhubung  kedalam  internet  haruslah  memiliki  alamat  yang  unik,  maka jika  dilihat  maka  jumlah  tersebut  tidak  mungkin  akan  cukup  untuk  seluruh mesin yang ada di dunia ini. 
Oleh  karena  itu,  jika  dilihat  dari  posisinya  didalam  sebuah  jaringan, sebuah alamat IP dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
a.       IP publik yaitu alamat IP yang langsung terhubung kedalam internet, dimana IP tersebut bersifat unik di keseluruhan jaringan internet.
b.      IP  private  yaitu  alamat  IP  yang  bersifat  tidak  umum,  yang  hanya dikenali  oleh  jaringan  lokal  saja.  Agar  dapat  terhubung  ke  internet dibutuhkan    beberapa    server    yang    bisa    digunakan    untuk mengkonversi alamat kita sehingga terhubung kedalam internet.
Perhitungan Subnetting
Ketika sudah  diputuskan untuk memilih sebuah  subnet mask, maka kita  perlu  untuk  menentukan  beberapa  hal  yaitu:  jumlah  subnet,  host  yang valid,  dan  alamat  broadcast.  Maka  dari  subnet  yang  telah  dipilih  tadi  perlu dijawab 5 buah pertanyaan mendasar berikut:
a.       Berapa jumlah subnet yang dihasilkan?
b.      Berapa jumlah host yang valid untuk setiap subnet?
c.       Mana sajakah subnet-subnet yang valid?
d.      Alamat broadcast dari setiap subnet adalah?
e.       Manakah host-host yang valid untuk setiap subnet?

Contoh untuk kelas C.
Misal untuk melakukan subnetting pada alamat jaringan 192.168.1.0 dengan subnet mask 255.255.255.192 maka bentuk dari subnet mask tersebut adalah 11111111 . 11111111 . 11111111 . 110000000
Jawaban untuk masing-masing pertanyaan diatas adalah
a.       Berapa jumlah subnet yang dihasilkan?
Jumlah  subnet  =  2x-2.  Dimana  x  adalah  jumlah  bit  1(satu)  dalam subnet mask terakhir. Akan kita ambil oktet terakhirnya, 11000000.
Sehingga  dapat  kita  tentukan  bahwa  jumlah  subnet  dengan  x=2, adalah 22 – 2 = 2 subnet.

b.      Berapa jumlah host yang valid untuk setiap subnet?
Jumlah host per-subnet=2y-2. Dimana y adalah jumlah angka 0 (nol). Dari  oktet  terakhir  11000000,  dapat  kita  tentukan  jumlah  host valid/subnet dengan y=6 adalah 26 – 2 = 62 host/subnet.

c.       Mana sajakah subnet-subnet yang valid?
Sebelumnya harus kita tentukan ukuran blok subnetnya. Dari contoh diatas  maka  ukuran  blok  per  subnet  adalah  256  –  192  =  64.  Kita mulai dari 0 dengan menambahkannya dengan ukuran bloknya, hingga mencapai angka subnet masknya (dari contoh diatas adalah 192).
0 + 64 = 64                  ¬ valid
64 + 64 = 128              ¬ valid
128 + 64 = 192            ¬ tidak valid
Tetapi blok 192 akan menjadi tidak valid karena semua bit-nya adalah 1. Sehingga dua subnet yang valid adalah 64 dan 128.
d.      Alamat broadcast dari setiap subnet adalah?
Adalah nomor yang tepat sebelum subnet yang selanjutnya (subnet selanjutnya - 1). Sehingga alamat broadcast dari tiap subnet adalah
Subnet 64        ® 127
Subnet 128      ® 191
e.       Manakah host-host yang valid untuk setiap subnet?
Akan menjadi lebih mudah jika kita gunakan dalam bentuk tabel
Maka didapatkan bahwa host yang valid untuk 
·         subnet 64 adalah antara 65 - 126, atau lengkapnya 192.168.1.65 – 192.168.126 dengan alamat broadcast 127 (192.168.1.127).
·         subnet    128    adalah    antara    129-190,    atau    lengkapnya 192.168.1.129  –  192.168.190  dengan  alamat  broadcast  191 (192.168.1.191).

Contoh Untuk kelas B
Antara  kelas  B  dan  kelas  C  tidak  jauh  berbeda,  masih  tetap  kita  gunakan  5 buah pertanyaan yang telah digunakan pada contoh diatas.
Misal untuk sebuah alamat jaringan 172.16.0.0/18.
18 = 255.255.192.0 = 11111111 . 11111111 . 110000000 . 00000000
·         Jumlah subnet? 22 – 2 = 2
·         Jumlah host? 214 – 2 = 16.382 (16 berasal dari 6 oktet ketiga dan 8 oktet keempat)
·         Subnet yang valid? 256 – 192 = 64.
0 + 64 = 64              ¬ valid
64 + 64 = 128          ¬ valid
128 + 64 = 192        ¬ tidak valid
·         Alamat broadcast tiap subnet?
·         Host yang valid?
Tabel  berikut  akan  memperlihatkan  kedua  subnet  yang  ada, range host valid dan alamat broadcast masing-masing subnet.

Maka didapatkan bahwa host yang valid untuk 
·         subnet   172.16.64.0   adalah   antara   64.1   –   127.254,   atau lengkapnya   172.16.64.1   –   172.16.127.254   dengan   alamat broadcast 127.255 (172.16.127.255).

·         subnet  172.16.128.0  adalah   antara  128.1   –   191.254,  atau lengkapnya   172.16.128.1   –   172.16.191.254   dengan   alamat broadcast 191.255 (172.16.191.255).
Untuk kelas A cara yang digunakan tidak jauh berbeda.

Variable - Length Subnetting
Bahasan di atas merupakan sebuah contoh dari subnetting yang memiliki panjang tetap (fixed length subnetting), yang akan menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host yang sama. Meskipun demikian, dalam kenyataannya segmen jaringan tidaklah seperti itu. Beberapa segmen jaringan membutuhkan lebih banyak alamat IP dibandingkan lainnya, dan beberapa segmen jaringan membutuhkan lebih sedikit alamat IP.
Jika proses subnetting yang menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host yang sama telah dilakukan, maka ada kemungkinan di dalam segmen-segmen jaringan tersebut memiliki alamat-alamat yang tidak digunakan atau membutuhkan lebih banyak alamat. Karena itulah, dalam kasus ini proses subnetting harus dilakukan berdasarkan segmen jaringan yang dibutuhkan oleh jumlah host terbanyak. Untuk memaksimalkan penggunaan ruangan alamat yang tetap, subnetting pun diaplikasikan secara rekursif untuk membentuk beberapa subjaringan dengan ukuran bervariasi, yang diturunkan dari network identifier yang sama. Teknik subnetting seperti ini disebut juga variable-length subnetting. Subjaringan-subjaringan yang dibuat dengan teknik ini menggunakan subnet mask yang disebut sebagai Variable-length Subnet Mask (VLSM).
Karena semua subnet diturunkan dari network identifier yang sama, jika subnet-subnet tersebut berurutan (kontigu subnet yang berada dalam network identifier yang sama yang dapat saling berhubungan satu sama lainnya), rute yang ditujukan ke subnet-subnet tersebut dapat diringkas dengan menyingkat network identifier yang asli.
Teknik variable-length subnetting harus dilakukan secara hati-hati sehingga subnet yang dibentuk pun unik, dan dengan menggunakan subnet mask tersebut dapat dibedakan dengan subnet lainnya, meski berada dalam network identifer asli yang sama. Kehati-hatian tersebut melibatkan analisis yang lebih terhadap segmen-segmen jaringan yang akan menentukanberapa banyak segmen yang akan dibuat dan berapa banyak jumlah host dalam setiap segmennya.
Dengan menggunakan variable-length subnetting, teknik subnetting dapat dilakukan secara rekursif: network identifier yangsebelumnya telah di-subnet-kan, di-subnet-kan kembali. Ketika melakukannya, bit-bit network identifier tersebut harusbersifat tetap dan subnetting pun dilakukan dengan mengambil sisa dari bit-bit host.
Tentu saja, teknik ini pun membutuhkan protokol routing baru. Protokol-protokol routing yang mendukung variable-lengthsubnetting adalah Routing Information Protocol (RIP) versi 2 (RIPv2), Open Shortest Path First (OSPF), dan Border GatewayProtocol (BGP versi 4 (BGPv4). Protokol RIP versi 1 yang lama, tidak mendukungya, sehingga jika ada sebuah router yanghanya mendukung protokol tersebut, maka router tersebut tidak dapat melakukan routing terhadap subnet yang dibagidengan menggunakan teknik variable-length subnet mask.













Tabel Pembuatan Subnet
Subnetting Alamat IP kelas A
Tabel berikut berisi subnetting yang dapat dilakukan pada alamat IP dengan network identifier kelas A.
Jumlah subnet
Jumlah subnet bit
Subnet mask
Jumlah host tiap subnet
1-2
1
255.128.0.0 atau /9
8388606
3-4
2
255.192.0.0 atau /10
4194302
5-8
3
255.224.0.0 atau /11
2097150
9-16
4
255.240.0.0 atau /12
1048574
17-32
5
255.248.0.0 atau /13
524286
33-64
6
255.252.0.0 atau /14
262142
65-128
7
255.254.0.0 atau /15
131070
129-256
8
255.255.0.0 atau /16
65534
257-512
9
255.255.128.0 atau /17
32766
513-1024
10
255.255.192.0 atau /18
16382
1025-2048
11
255.255.224.0 atau /19
8190
2049-4096
12
255.255.240.0 atau /20
4094
4097-8192
13
255.255.248.0 atau /21
2046
8193-16384
14
255.255.252.0 atau /22
1022
16385-32768
15
255.255.254.0 atau /23
510
32769-65536
16
255.255.255.0 atau /24
254
65537-131072
17
255.255.255.128 atau /25
126
131073-262144
18
255.255.255.192 atau /26
62
262145-524288
19
255.255.255.224 atau /27
30
524289-1048576
20
255.255.255.240 atau /28
14
1048577-2097152
21
255.255.255.248 atau /29
6
2097153-4194304
22
255.255.255.252 atau /30
2

Subnetting Alamat IP kelas B

Tabel berikut berisi subnetting yang dapat dilakukan pada alamat IP dengan network identifier kelas B.
Jumlah subnet
Jumlah subnet bit
Subnet mask
Jumlah host tiap subnet
1-2
1
255.255.128.0 atau /17
32766
3-4
2
255.255.192.0 atau /18
16382
5-8
3
255.255.224.0 atau /19
8190
9-16
4
255.255.240.0 atau /20
4094
17-32
5
255.255.248.0 atau /21
2046
33-64
6
255.255.252.0 atau /22
1022
65-128
7
255.255.254.0 atau /23
510


Subnetting Alamat IP kelas C

Tabel berikut berisi subnetting yang dapat dilakukan pada alamat IP dengan network identifier kelas C.
Jumlah subnet
Jumlah subnet bit
Subnet mask
Jumlah host tiap subnet
1-2
1
255.255.255.128 atau /25
126
3-4
2
255.255.255.192 atau /26
62
5-8
3
255.255.255.224 atau /27
30
9-16
4
255.255.255.240 atau /28
14
17-32
5
255.255.255.248 atau /29
6
33-64
6
255.255.255.252 atau /30
2
























Routing
Router adalah sebuah alat yang mengirimkan paket data melalui sebuah jaringan atau Internet menuju tujuannya, melalui sebuah proses yang dikenal sebagai routing

Routing adalah proses untuk memilih jalur (path) yang harus dilalui oleh paket. Jalur yang baik tergantung pada beban jaringan, panjang datagram, type of service requested dan pola trafik. Pada umumnya skema routing hanya mempertimbangkan jalur terpendek (the shortest path).

Terdapat 2 bentuk routing, yaitu:
  • Direct Routing (direct delivery); paket dikirimkan dari satu mesin ke mesin lain secara langsung (host berada pada jaringan fisik yang sama) sehingga tidak perlu melalui mesin lain atau gateway.
  • Indirect Routing (indirect delivery); paket dikirimkan dari suatu mesin ke mesin yang lain yang tidak terhubung langsung (berbeda jaringan) sehingga paket akan melewati satu atau lebih gateway atau network yang lain sebelum sampai ke mesin yang dituju.
Tabel Routing

Router merekomendasikan tentang jalur yang digunakan untuk melewatkan paket berdasarkan informasi yang terdapat pada Tabel Routing.

Informasi yang terdapat pada tabel routing dapat diperoleh secara
static routing melalui perantara administrator dengan cara mengisi tabel routing secara manual ataupun secara dynamic routing menggunakan protokol routing, dimana setiap router yang berhubungan akan saling bertukar informasi routing agar dapat mengetahui alamat tujuan dan memelihara tabel routing.

Tabel Routing pada umumnya berisi informasi tentang:
  • Alamat Network Tujuan
  • Interface Router yang terdekat dengan network tujuan
  • Metric, yaitu sebuah nilai yang menunjukkan jarak untuk mencapai network tujuan. Metric tesebut menggunakan teknik berdasarkan jumlah lompatan (Hop Count).
Contoh tabel routing pada MikroTik

 





Routed Protocol dan Routing Protocol

Routing Protocol maksudnya adalah protocol untuk merouting. Routing protocol digunakan oleh router-router untuk memelihara /meng-update isi routing table. Pada dasarnya sebuah routing protocol menentukan jalur (path) yang dilalui oleh sebuah paket melalui sebuah internetwork.
Contoh dari routing protocol adalah RIP, IGRP, EIGRP, dan OSPF.

Routed Protocol (protocol yang diroutingkan) maksudnya adalah protokol-protokol yang dapat dirutekan oleh sebuah router. Jadi protocol ini tidak digunakan untuk membuild routing tables, melainkan dipakai untuk addressing (pengalamatan). Karena digunakan untuk addressing, maka yang menggunakan routed protocol ini adalah end devices (laptop, mobile phone, desktop, mac, dll). router akan membaca informasi dari protocol ini sebagai dasar untuk memforward paket.
Contoh routed protocol adalah IP, NetbeUI, IPX, Apple Talk dan DECNet.

REFERENCE By Banyak Sumber



Tidak ada komentar:

Posting Komentar